Psikologi Pendidikan

Motivasi

 


A. Motivasi Belajar 

Motivasi merupakan proses internal yang mengaktifkan, memandu, dan memelihara perilaku seseorang secara terus menerus. Motivasi tidak dapat diukur secara langsung. Motivasi belajar yakni sebuah dorongan dari diri peserta didik yang menimbulkan kegiatan belajar, serta memberi arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan belajar akan tercapai. Dengan motivasi belajar proses pembelajaran akan berlangsung maksimal. Motivasi dan belajar merupakan 2 hal yang saling berkaitan yang merupakan hal pokok dalam melakukan belajar sehingga tanpa motivasi, peserta didik tidak akan melakukan kegiatan pembelajaran dengan maksimal. Apabila peserta didik memiliki motivasi  belajar yang kuat, maka hasil belajar yang didapat akan semakin maksimal. Oleh karena itu, motivasi belajar harus dimiliki oleh setiap peserta didik. Tidak hanya itu, motivasi juga penting untuk menentukan seberapa banyak peserta didik dapat belajar dari aktivitas yang mereka lakukan atau informasi yang mereka hadapi.

• Motivasi dalam belajar ada 2 yaitu

1) Motivasi intrinsik :

Motivasi yang berasal dari dalam diri individu. Tidak perlu adanya rangsangan dari luar. Terkadang motivasi ini juga didorong dari tujuan kegiatan yang dilakukan.

2) Motivasi ekstrinsik :

Motivasi yang muncul dari luar atau orang lain. motivasi ini muncul karena seseorang yang ingin mendapatkan sesuatu karena perintah orang lain. Biasanya dorongan orang lain justru menjadi motivasi diri seseorang. Semua tergantung individu masing-masing.

B. Faktor – faktor yang mempengaruhi motivasi belajar

Menurut teori psikologi dan penelitian ‘Time Continuum’ (Wlodkowski,1991), disebutkan bahwa ada 6 faktor yang mempengaruhi motivasi belajar yaitu :

1) Sikap 

Sikap diperoleh dari pengalaman, pembelajaran, identifikasi, dan perilaku. Sikap berada pada diri setiap orang sepanjang waktu dan secara konstan sikap itu mempengaruhi perilaku dan belajar. Biasanya yang banyak mengandung resiko yaitu pengalaman belajar, karena terkadang hasilnya tak menentu.

2) Kebutuhan 

Kebutuhan merupakan kekuatan internal yang dimiliki peserta didik, biasanya ketika peserta didik butuh terhadap materi yang akan disampaikan pendidik, karena sejalan dengan yang dicita-citakan maka motivasi belajar akan semakin meningkat.

3) Afeksi 

Afeksi berkaitan dengan pengalaman emosional kecemasan, kepedulian, dan pemilikan dari individu atau kelompok pada waktu belajar. Afeksi dapat menjadi motivator intrisik. Apabila emosi bersifat positif maka emosi dapat mendorong peserta didik untuk lebih giat lagi dalam belajar.

4) Kompetensi 

Kompetensi membrikan peluang pada percaya diri untuk berkembang. Apabila peserta didik merasa mampu terhadap apa yang dipelajari, maka dia akan merasa percaya diri.

5) Rangsangan

Apabila suatu pembelajaran sudah berhasil memberi rangsangan terhadap peserta didik maka perhatian kepada pembelajaran akan meningkat.

6) Penguatan

Penguatan berfungsi untuk mempertahankan atau meningkatkan respon peserta didik terhadap pembelajaran.


C. Prinsip Motivasi Belajar

1. Motivasi sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar

Motivasilah yang mendorong seseorang untuk belajar. Seseorang yang minat untuk belajar belum sampai pada tataran motivasi belum menunjukkan aktivitas yang nyata. Minat itu belum sampai melakukan kegiatan, hanya kemauan diri saja.

2. Motivasi intrinsik lebih utama daripada motivasi ekstrinsik dalam belajar.

Motivasi intrinsik lebih utama dalam belajar karena motivasi ekstrinsik membuat peserta didik ketergantungan pada segala sesuatu di luar dirinya.

3. Motivasi berupa Pujian lebih baik daripada hukuman.

Karena pada dasarnya semua orang lebih suka di puji daripada di hukum. 

4. Motivasi berhubungan erat dengan kebutuhan dalam belajar.

5. Motivasi dapat memupuk optimis dalam belajar.

Setiap peserta didik yang memiliki motivasi dalam belajar akan selalu yakin dapat menyelesaikan setiap pekerjaan yang dilakukan.

6. Motivasi melahirkan prestasi dalam belajar.

Tinggi rendahnya motivasi selalu dijadikan indikator baik buruknya prestasi belajar seseorang.


D. Teori-Teori Motivasi

Untuk memahami tentang motivasi, kita akan bertemu dengan beberapa teori tentang motivasi, antara lain :

1. Teori Hierarki Maslow

Teori ini menyatakan bahwa ada lima kebutuhan dalam kehidupan manusia yang berdasarkan dengan hierarki mereka, mulai dari kebutuhan dasar hingga kebutuhan yang lebih tinggi, yaitu :

• Physiological Needs

Kebutuhan ini disebut juga sebagai kebutuhan fisiologis atau kebutuhan primer. Terdiri dari udara, makanan, minuman, pakaian, perumahan ,dll.

• Safety Needs

Sebuah kebutuhan akan rasa aman dari berbagai kekerasan fisik dan psikologis.

• Esteem Needs

Setelah seseorang memenuhi kebutuhan fisiologis, keselamatan, dan sosialnya, kemudian dia juga berharap untuk dikenali oleh orang lain, untuk memiliki reputasi dan kepercayaan yang baik.

• Social Needs

Merupakan salah satu kebutuhan yang diartikan sebagai kebutuhan untuk dicintai dan juga mencintai seseorang. 

• Self-Actualization

Kebutuhan ini adalah persyaratan yang paling tinggi, karena kebutuhan untuk realisasi diri merupakan salah satu kebutuhan atau keinginan individu untuk memenuhi ambisi pribadinya.

2. Teori Motivasi MC Clelland

Menurut MC Clelland, setiap orang bisa mempunyai motivasi jika mereka ingin menjadi yang lebih baik lagi daripada yang lain. Ada tiga persyaratan, yaitu :

• Need For Achievement

Need for achievement adalah kebutuhan yang tercermin dari keinginan seseorang untuk mengambil tugas individu. 

• Need For Power

Kebutuhan ini muncul dari dalam diri seseorang yang mempunyai keinginan untuk mempengaruhi orang lain dan ingin mencoba mengendalikan orang lain dengan cara mengatur perilaku mereka.

• Need For Affiliation

Kebutuhan untuk memiliki adalah salah satu kebutuhan yang dipenuhi melalui keberadaan persahabatan atau kekeluargaan.

3. Teori ERG Alderfer

Sebagai teori alternatif yang digunakan terhadap teori hierarki Maslow. Terdapat tiga kebutuhan manusia, yaitu :

• Existence Needs, adalah salah satu kebutuhan yang digunakan untuk memenuhi faktor-faktor fisiologis dan juga materialistis, termasuk kebutuhan akan keamanan dan kenyamanan.

• Relatedness Needs, adalah salah satu kebutuhan yang menjurus untuk memiliki hubungan dengan orang lain.

• Growth Needs, yaitu sebuah kebutuhan atau keinginan untuk berkembang menjadi orang yang lebih baik serta untuk mencapai potensi secara maksimal.

4. Teori Harapan Vroom

Teori motivasi mengungkapkan bahwa orang-orang termotivasi untuk mengerjakan sesuatu karena ingin mendapatkan hasil yang sempurna. Terdapat tiga konsep yaitu :

• Expectancy, yaitu keyakinan atau kepercayaan seseorang bahwa suatu usaha yang dilaksanakan akan menghasilkan pekerjaan yang maksimal. 

• Instrumentally, yaitu keyakinan yang muncul dalam diri seseorang bahwa suatu kinerja akan mencapai hasil tertentu.

• Valence, yaitu, sebuah teori yang lebih mengarah kepada nilai-nilai positif dan negatif yang digunakan oleh seseorang untuk merujuk pada hasil yang didapatkan.

5.Teori Motivasi Herzberg

Teori Herzberg sering disebut juga sebagai teori dua faktor atau teori M-H. Didalam teori ini menjelaskan bagaimana cara seorang manajer mengendalikan faktor-faktor yang mungkin dapat memberikan kepuasan atau tidak dengan pekerjaannya. 


E. Strategi Menumbuhkan Motivasi Belajar

Pupuh Fathurohman dan M. Sobry Suntikno (2010) menyatakan ada beberapa strategi untuk menumbuhkan motivasi belajar peserta didik, yaitu:

1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik

Pada permulaan belajar mengajar, terlebih dahulu seorang guru menjelaskan tentang tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran kepada siswa. Makin jelas tujuan yang akan dicapai peserta didik maka makin besar juga motivasi dalam melaksanakan kegiatan belajar.

2. Memberikan hadiah (reward)

Memberikan hadiah kepada peserta didik yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat peserta didik untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, peserta didik yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar peserta didik yang berprestasi.

3. Memunculkan saingan atau kompetensi

Guru berusaha mengadakan persaingan di antara peserta didik untuk meningkatkan prestasi belajarnya, dan berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.

4. Memberikan pujian

Memberikan pujian atau penghargaan kepada peserta didik yang berprestasi sudah sepantasnya dilakukan oleh guru yang bersifat membangun.

5. Memberikan hukuman

Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar peserta didik tersebut mau mengubah diri dan beruaha memacu motivasi belajarnya.

6. Membangkitkan dorongan kepada peserta didik untuk belajar

Kegiatan yang dilakukan guru adalah memberikan perhatian maksimal kepada peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.

7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik

Guru menanamkan pembiasaan belajar yang baik dengan disiplin yang terarah sehingga peserta didik dapat belajar dengan suasana yang kondusif.

8. Membantu kesulitan belajar peserta didik, baik secara individual maupun komunal (kelompok)

9. Menggunakan metode yang bervariasi

Dalam pembelajaran, metode konvensional harus sudah ditinggalkan guru karena peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda sehingga dibutuhkan metode yang tepat/bervariasi dalam memberdayakan kompetensi peserta didik.

10. Menggunakan media yang baik serta harus sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Penggunaan media yang tepat sangat membantu dan memotivasi peserta didik dalam memaknai pembelajaran sesuai tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Adanya media yang tepat akan mampu memediasi peserta didik yang memiliki kemampuan indera yang tidak sama, baik pendengaran maupun penglihatannya, demikian juga kemampuan berbicaranya. Dengan variasi penggunaan media, kelemahan indera yang dimiliki tiap peserta didik dapat dikurangi dan dapat memberikan stimulus terhadap indera peserta didik.


0 Response to "Psikologi Pendidikan "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel