Pendidikan Inklusi

Resume 

Pendidikan Inklusi Di Negara Jepang



Penyelenggaraan pendidikan inklusi di Jepang secara garis besar dibagi menjadi 3 yaitu: SLB, Kelas Khusus dan Kelas Bimbingan Khusus. 

a. Selayaknya di Indonesia SLB merupakan sekolah yag diperuntukkan bagi anak berkebutuhan khusus dengan gangguan berat baik secara fisik maupun mental.

b. Kelas khusus merupakan tempat belajar bagi anak dengan gangguan tidak terlalu berat, contohnya anak slow learner. Kelas khusus merupakan kelas yang dibuat khusus terpisah dari kelas regular (isinya anak normal semua), tetapi ada waktu tertentu kelasnya digabung dengan kelas regular misalkan ketika pelajaran seni, olahraga ataupun kelas bahasa, sehingga siswa di kelas khusus ini dapat berinteraksi dengan siswa normal. Kelas khusus di Jepang paling banyak di tempati oleh anak autism, gangguan intelektual dan gangguan emosional.

c. Kelas bimbingan khusus, merupakan kelas dimana siswa yang belajar disini mengikuti program pemisahan dan penggabungan kelas. Misalnya, anak yang secara intelektual normal, namun ketika berkomunikasi mengalami gangguan seperti susah melafalkan huruf atau gagap, maka meskipun sehari-hari anak belajar dalam kelas regular normal, dalam waktu tertentu siswa akan ditarik dalam kelas khusus untuk melatih kemampuan berkomunikasinya. Setelah bimbingan siswa akan kembali ke kelas regular normal karena pada dasarnya siswa adalah anak normal hanya saja perlu bimbingan khusus dalam hal kemampuan berkomunikasi. Siswa yang dapat digabungkan dalam kelas regular normal adalah anak dengan Asperger syndrome (gangguan perkembangan), Learning disability (kesulitan belajar), dan Hyperactivity disorder (gangguan pemusatan perhatian).

Dalam memberikan pelayanan dalam pendidikan inklusi di Jepang, guru atau pendidik dituntut memiliki kepekaan terhadap masalah yang dihadapi  siswa atau peserta didik dan mampu menemukan solusi yang tepat terhadap permasalahan tersebut.

Berikut beberapa contoh masalah dan  solusi yang diterapkan dalam pendidikan inklusi di Jepang  : 


No

Masalah

Solusi

1.

Impulsivity (bertindak secara tiba-tiba tanpa disadari)

Guru atau pendidik harus menimbulkan motivasi belajar sehingga anak tertarik untuk melakukan sesuatu sendiri tanpa mengganggu temannya.

2.

Difficult to switch (kesulitan berganti topik)

Guru atau pendidik membuat perjanjian dengan anak berapa lama anak akan menyelesaikan tugas yang diberikan (siswa sendiri yang menentukan berapa lama dia akan menyelesaikan tugas sehingga ketika tiba waktunya anak akan mau diajak berganti topik).

3.

Hypersensivity (mudah terganggu)

Guru atau pendidik menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif untuk menjaga konsentrasi anak, misalnya dengan memposisikan anak duduk jauh dari jendela sehingga situasi di luar kelas tidak membuatnya berubah konsentrasi.

4.

Weaknes of Predictive power (kelemahan memprediksi suatu hal)

Siswa atau peserta didik diajak melihat langsung situasi real yang memberinya gambaran tentang apa yang akan terjadi, misalnya melihat proses wisuda atau kelulusan, dimana dengan melihat langsung siswa akan dapat memprediksi bahwa jika anak sudah selesai belajar di sekolah tersebut maka diapun akan mengalami proses wisuda/kelulusan.

    Penanganan terhadap anak berkebutuhan khusus di Jepang dilaksanakan secara individu, dengan mekanisme sekolah mengundang orangtua, ahli kesehatan (dokter maupun psikolog) dan juga guru pengajarnya untuk diajak rapat bersama membahas tentang kondisi anak dan rencana apa yang akan dilakukan untuk masa depan anak berkebutuhan khusus. Perencanaan ini dibuat dan dilaksanakan secara optimal sejak kelas awal sampai akhir anak belajar disekolah tersebut. Atau dapat di katakan RPS yang digunakan oleh peserta didik berkebutuhan khusus di Jepang digunakan selama meraka lulus.

    Dalam pelaksanaan pendidikan inklusi di Jepang, semua warga sekolah dituntut memiliki sikap yang hangat, ramah dan terbuka terhadap anak berkebutuhan khusus, termasuk dalam penggunaan bahasa, guru dilarang menggunakan kata-kata kasar ataupun kata yang menyinggung. Dalam hal pemberian materi guru atau pendidik harus mampu menganalisis penambahan dan pengurangan materi apa saja yang dibutuhkan peserta didik agar selama mengenyam pendidikan peserta didik tidak mengalami stress dan frustasi.

   Perhatian pemerintah Jepang terhadap anak berkebutuhan khusus bukan hanya pada penyelenggaraan pendidikan. Pemerintah Jepang membuat sebuah program yang disebut dengan pemberdayaan 1000 orang berkebutuhan khusus, dimana dalam program ini memberikan kesempatan kepada orang dengan kebutuhan khusus untuk menjadi tenaga kerja sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Orang berkebutuhan khusus tersebut selanjutnya akan di terjunkan ke perusahaan-perusahaan sesuai dengan passionnya seperti perusahaan manufactur/perakitan, penjualan, minimarket, delivery, mebel, pertanian dll. Optimalisasi pendidikan inklusif di Jepang dapat berjalan dengan baik dikarenakan adanya sinergi yang berkelanjutan mulai dari orang tua, masyarakat, pemerintah maupun dunia kerja. Jepang merupakan negara yang sangat ramah terhadap disabilitas, terlihat dari penyelenggaraan pendidikan, fasilitas publik maupun kehidupan bermasyarakatnya.

    Paradigma baru yang harus ditanamkan terkait dengan siswa berkebutuhan khusus dalam pendidikan inklusif bahwa sejatinya siswa berkebutuhan khusus adalah siswa normal, akan tetapi memerlukan layanan dan penanganan khusus terkait keistimewaan yang dimiliki. Dalam pembelajaran, diharapkan guru tidak memberikan tuntutan yang sama terkait tagihan kompetensi yang harus dicapai, melainkan disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan anak. Fleksibilitas ini diperlukan karena sudah sepatutnya anak berkebutuhan khusus di belajarkan dengan tujuan dan layanan khusus.

    Tentunya pelaksanaan pendidikan inklusi yang ada di Jepang ini bisa membuka wawasan kita terhadap peserta didik yang berkebutuhan khusus ,yang dimana pelaksanaanya bisa menjadi acuan atau contoh agar pendidikan inklusi di Indonesia bisa jauh lebihh baik lagi ,karena sejatinya anak yang berkebutuhan khusus ini layak untuk mengenyam pendidikan seperti peserta didik lain. 


0 Response to "Pendidikan Inklusi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel